Minggu, 02 Juni 2013

Jika Si Kecil Pemilih Makanan, Apa Solusinya?

Anak Pemilih Makanan.

Memiliki anak yang pemilih soal makanan (picky eater) memang membuat sebagian ibu merasa khawatir. Pasalnya, si anak dapat kekurangan asupan gizi karena terlalu memilah-milah makanan.

Berbicara mengenai anak memang tidak lepas dari masalah tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak merupakan suatu proses yang harus dilalui oleh setiap anak. Anak akan berkembang dengan baik jika asupan gizi yang diterima terpenuhi.

Berbeda halnya, jika si anak mengalami picky eater. Gizi yang diterima tidaklah terpenuhi karena terlalu memilah-milah makanan.

Menurut dr Attilla Dewanti SpA (K) pada talkshow-nya yang diselenggarakan di RSIA Brawijaya beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari okezone.com, picky eater (pemilih makanan) adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah enam tahun. Picky eater terjadi karena banyak faktor. Tidak semua anak pemilih makanan itu sama.


Dokter Atilla menyebutkan, hal tersebut bisa terjadi karena penyakit organik, salah persepsi orangtua mengenai jumlah atau jenis makanan, hingga temperamen yang sulit. Selain itu, dr Atilla menambahkan, picky eater bisa juga terjadi karena anak bermasalah pada pengecapan, adanya disfungsi pada oral motorik, adanya penyakit akut atau kronis, lingkungan, sensitif terhadap rasa kenyang, anak terlalu aktif, ditelantarkan, bahkan karena trauma atau takut terhadap makanan tertentu.

Banyak alasan yang membuat si anak jadi suka memilah-milah makanan. Bagi para orangtua, jika anaknya mengalami picky eater, maka jangan memaksakan anak untuk makan ketika dia tidak mau makan.

“Itu akan memperparah keadaan, bahkan psikologisnya juga akan terganggu,” kata Febria Indra Hastati SPsi MPsi Psikolog CH Cat, psikolog anak RSIA Brawijaya.

Namun, bila dibiarkan, picky eater akan memengaruhi pertumbuhan atau tumbuh kembang si anak. Termasuk kebutuhan energi dan pola makan si anak. Anak-anak yang mengalami picky eater akan mengonsumsi nutrisi lebih sedikit. Tidak cukup mengonsumsi vitamin C dan E, sedikit mengonsumsi protein, kalori dan lemak, mengonsumsi lebih sedikit sayur, daging, dan buah.

“Jika asupan gizinya tak terpenuhi, maka tubuh anak akan lebih pendek dan berat badan kurang,” tambah dr Atilla.

Sebab, pemilih makanan mengarah kepada nutrisi dan kurang gizi. Jadi, para orangtua dapat mengatasi kondisi tersebut dengan membuat makanan yang menarik perhatian mereka. Dengan menyembunyikan makanan yang tidak anak suka lewat kreativitas si ibu dalam menata makanan untuk anak.

Febri menjelaskan, para orangtua juga bisa memilih peralatan makan yang sesuai dengan anak atau memberinya peralatan makan yang unik, mencari suasana berbeda dengan mengajak si anak piknik.

Juga, berikan contoh yang baik kepada anak. Jangan hanya menyuruh, tetapi orang tua harus mencontohkannya. Adanya edukasi dari orang tua juga dapat membentuk perilaku si kecil. Selain itu, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada dokter.
Posting Komentar