Minggu, 02 Desember 2012

Asparagus ternyata dapat membantu mengobati diabetes


Para ilmuwan menemukan bahwa asparagus bisa menjadi senjata melawan diabetes. Menurut mereka, mengkonsumsi asparagus secara regular bisa menjaga level gula darah dan meningkatkan produksi insulin—hormon yang membantu menyerap glukosa.

Di Inggris, konsumsi asparagus meningkat akhir-akhir ini, dan mencapai rekor baru sebanyak 8.000 ton per tahun. Selain rasanya enak, kini, asparagus ternyata diketahui mempunyai peran vital dalam melawan krisis diabetes yang dialami penduduk Inggris. Untuk melihat manfaat asparagus dalam kasus diabetes, ilmuwan dari University of Karachi di Pakistan menyuntik tikus dengan bahan kimia untuk memberikan status diabetes, dengan kadar insulin rendah dan kandungan gula dalam darah. Separuh dari tikus tersebut diobati dengan ekstrak asparagus, sementara yang lainnya diberi obat antidiabetes glibenclamide . Tikus-tikus ini diberi ekstrak asparagus dalam dosis kecil setiap hari selama 28 hari. Dilakukan juga tes darah untuk mengecek perubahan diabetes mereka. Hasilnya, seperti dipublikasikan The British  Journal of Nutrition yang dikutip Daily Mail, 21 November 2012, menunjukkan bahwa level rendah asparagus bisa menekan kadar gula dalam darah, tetapi tidak meningkatkan produksi insulin. Hanya ekstrak kadar tinggi yang memberikan efek signifikan pada produksi insulin oleh pankreas--organ yang melepaskan hormon tersebut ke dalam sistem peredaran darah.

Penelitian sebelumnya, yang dipublikasikan di British Medical Journal 2006, menunjukkan bahwa asparagus memicu kenaikan 81 persen glukosa oleh otot dan jaringan tubuh. Dalam laporan hasil temuan mereka, ilmuwan dari University of Karachi mengungkapkan, "Studi ini menunjukkan bahwa ekstrak asparagus mempunyai efek antidiabetes." Diabetes tipe 2, yang jumlahnya mencapai 90 persen dari kasus diabetes yang ada, adalah masalah kesehatan yang menjadi isu penting saat ini di Inggris. Menurut data dari lembaga Diabetes UK, jumlah penderita diabetes terus meningkat. Pada 2025, jumlahnya sekitar 2,5 juta hingga empat juta orang, dan naik mencapai lima juta orang pada 2030. Saat ini, sudah lebih dari satu juta orang yang terkena diabetes di Inggris dan mereka tidak menyadari bahaya di balik angka tersebut. Hal ini, kemungkinan, disebabkan mereka tidak mengenali gejala seperti mudah lelah, sering haus, sering kencing, sariawan, dan luka yang sulit sembuh. Jika dibiarkan, diabetes tipe 2 ini bias meningkatkan risiko serangan jantung, kebutaan, dan amputasi. Namun, jika dokter bisa mengenalinya lebih awal, diabetes bisa dikontrol dengan makanan dan obat-obatan. Di masa lalu, diabetes dikenal sebagai penyakit usia tua karena cenderung menyerang orang berusia pertengahan dan lansia. Namun, saat ini, dokter sudah menemukan banyak remaja dan orang berusia 20-an yang juga terkena diabetes. Salah satu penyebab meningkatnya risiko adalah makanan berlemak dan gaya hidup yang equal kurang sehat.

Sumber: DAILY MAIL