Jumat, 02 November 2012

Penelitian terbaru: Antibiotik Tak Sembuhkan Batuk


Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengalami batuk akibat demam biasa seharusnya tidak diberi antibiotik. Meskipun antibiotik tidak efektif melawan batuk, para ilmuwan Italia mengatakan banyak anak yang diberi resep antibiotik saat batuk. Pemberian resep antibiotik secara berlebihan ini terjadi juga di Amerika Serikat.


Temuan ini dipresentasikan pada Senin lalu, 22 Oktober 2012, di American College of Chest Physicians (ACCP), yang merupakan pertemuan tahunan, di Atlanta. “Berdasarkan pengalaman kami, antibiotik kerap diresepkan para dokter umum untuk mengatasi batuk pada anak-anak. Sebagian besar untuk menenangkan orang tuanya,” ujar ketua peneliti dari Clinic Center Private Hospital di Naples, Italia, Dr. Francesco de Blasio, seperti dikutip situs Health Day 24 Oktober 2012.

“Padahal, antibiotik kurang efektif mengatasi batuk akibat demam dan sakit kepala,” ujar dia.

Menurut de Blasio, tidak sulit memahami mengapa terjadi pemberian resep itu terjadi. “Para orang tua tak bisa melihat anaknya menderita. Tetapi menggunakan antibiotik tidak selalu menjawab persoalan,” ujar Dr. Darcy Marciniuk, presiden ACCP terpilih dalam siaran persnya.

“Tergantung dari penyebab batuknya. Para dokter bisa merekomendasikan pengobatan terbaik bagi seorang anak, dalam beberapa kasus, kemungkinan malah tak perlu pengobatan sama sekali,” katanya.

Penelitian ini melibatkan 305 anak-anak yang diobati dokter anak untuk batuk parah akibat demam biasa. Dari jumlah itu, 89 anak diberi antibiotik maupun obat batuk lain yang bisa mempengaruhi sistem saraf pusat (codeine, cloperastine) atau pengobatan ‘sekeliling’ yang disebut levodropizine. Sementara 44 anak menerima hanya obat anti-batuk. Sedangkan 55 anak lainnya tidak diberi obat apa pun.

Menurut para peneliti, antibiotik bisa membantu pengobatan yang disebabkan infeksi akibat batuk. Tapi penggunaannya tak boleh berlebihan. “Menggunakan antibiotik untuk mengobati batuk tanpa kecurigaan atas terjadinya infeksi adalah tidak bermanfaat dan bahkan bisa berbahaya,” ujar de Blasio.

“Pengulangan atas penggunaan antibiotik, khususnya ketika mereka tidak efektif, bisa menyebabkan reaksi alergi balik atau resistensi terhadap obat,” kata dia.

Sumber: HEALTH DAY
Posting Komentar