Sabtu, 22 Februari 2014

Sepak Bola Inggris dalam Masa Revolusi

Masih ada yang ingat kapan terakhir Inggris berprestasi di kancah Internasional? Piala Dunia 1966? Ya, hanya sekali. Itu pun karena turnamen empat tahunan itu diselenggarakan di tanah mereka sendiri dan dengan hanya diikuti 16 peserta.

Selebihnya tak ada prestasi berarti dari negeri Elizabeth ini. Mentok hanya sampai perempatfinal. Di Piala Eropa, mentok sampai semifinal, lagi-lagi itu itu pun saat mereka jadi tuan rumah pada 1996.

Inilah nasib The Three Lions. Punya liga termasyhur dan ditonton banyak orang, namun tak berdaya pada tataran internasional. Ya, mereka sudah tertinggal jauh dari banyak negara Eropa Daratan.



Yang Terjadi di Jerman

Syahdan di tahun 2001, saat sudah mulai sadar tentang pentingnya regenerasi, Jerman melakukan pembaharuan dalam kurikulum pembinaan sepakbolanya.

Semua dipicu oleh kegagalan total Jerman di Piala Eropa 2000. Tergabung di Grup A bersama Inggris, Portugal dan Rumania, Jerman hanya meraih sebiji poin dari pertandingan melawan Rumania. Gagal total. Dan memalukan.

Jerman merasa ada yang salah dengan pembinaan sepakbola. Maka mulai 2001, federasi sepakbola Jerman langsung melakukan pembenahan total. Mereka memulainya dengan menyusun kurikulum pembinaan pemain usia dini dan skema kompetisi untuk segmentasi pemain-pemain belia.

Jerman menuangkan program-program perombakan kurikulum pembinaan usia dini tersebut ke dalam sebuah buku panduan. Tak hanya itu, Jerman sengaja menggelontorkan uang tak kurang dari 20 juta euro untuk urusan ini. Talenta muda Jerman difasilitasi dengan 366 training center yang sangat lengkap nan modern.

Hasilnya, Jerman bisa dengan cepat bangkit dari keterpurukannya. Piala Dunia 2006, selang 5 tahun dari rilis kurikulum dan pembinaan gaya baru ini, mereka sudah bisa memikat dunia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Pelatih Jerman, Juergen Klinsmann, berhasil memunculkan nama-nama baru seperti Lukas Podolski, Phillip Lahm, Per Mertesacker dan Bastian Schweinsteiger. Semuanya masih berusia di bawah 22 tahun. Podolski bahkan didapuk sebagai Pemain Muda Terbaik.

Dan sejak itu, Jerman tak habis-habisnya memunculkan nama baru. Belum habis generasi Podolski, Scweinsteiger, dkk, sudah muncul nama-nama generasi berikutnya, dari Mesut Oezil, Manuel Neuer, Thomas Muller, Toni Kroos sampai Jerome Boateng. Oezil baru saja muncul, sudah muncul nama Mario Goetze.

Dan Inggris? Jelas terlambat. Setelah mereka dikalahkan Jerman pada fase 16 besar di Piala Dunia 2010, mereka baru sadar. Sadar untuk ikut juga merombak kurikulum pembinaan usia muda mereka. Atas refleksi panjang itulah, kemudian FA meluncurkan buku panduan pembinaan usia dini di Negeri Lady Diana itu. Mereka menamainya, "The Future Game".

The Future Game: Pedoman Penyeragaman

"Kita harus memastikan bahwa kita sedang memproduksi pemain Timnas Inggris yang mempunyai kemampuan teknis yang sama layaknya banyak negara besar."

Kurang lebih begitulah mukadimah buku pedoman tersebut. Itu pulalah target yang hendak dicapai dari buku pedoman tersebut. Inggris sudah mulai gerah dengan minimnya prestasi Tiga Singa. Ya, Inggris yang menggagas sepakbola, Inggris yang menyebarkan sepakbola, namun Inggris juga yang menjadi bulan-bulanan sepakbola saat berlaga di level internasional.

Oleh karenanya, Inggris menyusun sebuah ringkasan panduan pembinaan usia dini. Mulai dari kelompok usia 8-11 tahun, 12-16 tahun, bahkan sampai kelompok usia 17-21 tahun. Layaknya Undang-Undang Dasar sebuah negara, buku tersebut harus benar-benar diamalkan oleh semua elemen sepakbola di tanah Britania.

Pada kelompok umur 8-11 tahun, anak-anak dianjurkan untuk memainkan bola-bola pendek lewat permainan 3 vs 3 di lapangan 25 x 15 yard [1 yard = 0,91 meter]. Permainan ini tidak seperti permainan "kucing-kucingan" di Indonesia. Permainan ini menuntut anak-anak belajar mengorganisasi pertahanan serta belajar tata cara membongkar pertahanan dengan mengandalkan bola-bola pendek. Ini jelas ambisi besar karena visinya sangat kontradiktif dengan apa yang biasa kita lihat sehari-hari di Liga Inggris yang khas khas dengan permainan bola panjang.

Inikah sebuah pertanda bahwa Inggris hendak meninggalkan gaya bermain kick and rush yang sudah mulai usang termakan zaman itu?


[Grafik menu latihan kelompok usia 8-11 tahun]

Di kelompok umur selanjutnya, yaitu kelompok umur 12-16 tahun, menu latihan yang diberikan akan semakin detail. Banyak poin yang harus dituntaskan oleh para pemain akademi. Mereka dituntut untuk memainkan bola di lapangan 70 x 30 yard yang berisi 16 orang. Memainkan permainan 8 vs 8. Tim dibagi menjadi 3 pemain belakang, 3 pemain tengah, 1 penyerang, dan 1 kiper tentunya.

Lewat game ini, pemain dituntut untuk bisa memanfaatkan ruang kosong yang memungkinkan untuk dieksploitasi. Aturannya adalah, jika bola sudah memasuki zona tengah, maka dalam waktu kurang dari 10 detik tim tersebut harus sudah melakukan tembakan ke arah gawang. Oleh karenanya, lewat permainan ini pemain tengah dilatih untuk lihai mencari momentum melepaskan umpan untuk memasuki sepertiga akhir lapangan lawan.

Selain itu, tiga pemain bertahan juga diharuskan dapat membantu penyerangan saat bola berhasil dikuasai oleh kawan. Pemain belakang tak boleh melakukan umpan-umpan di daerahnya sendiri lebih dari lima kali. Oleh karena itu, dalam permainan ini seorang penyerang juga harus bisa melakukan peran sebagai pemain tengah. Para penyerang harus mahir turun ke bawah, mengisi celah yang ditinggalkan para pemain tengah yang sedang turun menjemput bola dari pemain belakang.

Dari situ kita tahu, Inggris tak lagi seperti dulu. Mencoba tidak seperti dulu. Inggris tak ingin lagi memaksimalkan serangan-serangan lewat sisi kiri ataupun kanan lapangan. Kini, sedari muda anak-anak Inggris sudah diajari tentang cara menyerang lewat tengah, seperti kebanyakan tim-tim Eropa daratan lainnya.


[Grafik menu latihan kelompok usia 12-16 tahun]

Pada jenjang selanjutnya, jenjang usia 17-21 tahun, barulah para pemain akademi ini diperbolehkan memainkan sepakbola di lapangan yang sesungguhnya. Akan tetapi hanya dimainkan oleh 8 lawan 8 orang, termasuk penjaga gawang.

Dalam jenjang usia ini, para pemain ditekankan untuk mengamalkan pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan sebelumnya. Mengorganisasi pertahanan dan juga menyerang lewat serangan balik adalah hal-hal yang ditekankan pada kurikulum jenjang usia 17-21 tahun.


[Grafik menu latihan kelompok usia 17-21 tahun]

Latihan dimulai dengan pelatih yang mengoper bola pada para pemain yang berada di dalam cones seluas 20 x 28 yard. Kotak tersebut diisi 5 orang dari masing-masing tim. Menyisakan satu orang penyerang dan satu orang pemain bertahan di luar kotak.

Dalam latihan ini, para pemain yang berada pada kotak imajiner tersebut hanya boleh melakukan 5-6 kali passing, sebelum memutuskan untuk mengirimkan umpan ke depan atau justru mengembalikan bola ke bek.

Hal ini melatih mereka untuk tak terburu-buru menyerang jikalau memang belum siap benar. Jenjang ini adalah praktek dari jenjang sebelumnya, terutama menyoal menentukan momentum untuk menyerang dan merengsak ke sepertiga akhir lapangan. Selain itu, penyerang dalam program ini, diharuskan melepaskan tembakan sebelum bola berjarak 20 yard dari gawang.

Ya, di jenjang usia lebih dewasa, Inggris mulai menyajikan menu latihan yang jauh dari khasanah sepakbolanya: kick and rush. Inggris yang biasanya selalu mengandalkan umpan panjang dari daerah pertahan menuju blok penyerangan lewat kiri atau kanan lapangan, kini hendak mencoba variasi serangan lewat tengah. Memaksimalkan kreativitas pemain tengah. Inggris yang biasanya mengandalkan crossing kini hendak memaksimalkan seni menyerang lewat trough-ball.

Pun dengan adanya pedoman ini juga akan melunturkan prototype penyerang Inggris yang biasanya merupakan tombak kembar yang ada di muka gawang lawan. Seperti yang kita tahu, Inggris sudah terlanjur dikenal sebagai tim yang memiliki duet stiker yang tidak pernah berdiri berjauhan dan sangat klinis dalam mengkonversi peluang menjadi gol.

Alhasil, Inggirs mirip Barcelona dengan tiki-taka-nya, bukan? Mirip Belanda dengan totalfootball-nya, bukan?

Ya, pedoman tersebut merupakan antiklimaks persepakbolaan Inggris. Inggris yang selalu mengagung-agungkan supremasi kick and rush kini mulai sadar bahwa pakem main bola mereka sudah tergerus zaman. Buku pedoman tersebut secara tidak langsung merupakan bukti nyata bahwa Inggris sedang menurunkan egonya.

Sadar atau tidak, mereka sedang mengadakan penyeragaman pola permainan sejak usia muda. Maka jangan heran jika esok tak ada lagi kick and rush, tak ada lagi Stoke Way, tak ada lagi Liverpool Way, tak ada lagi Arsenal Way. Semua akan menjadi sama. Semua akan seragam. [Baca juga: Gaya Bermain Tim Sepakbola: Antara Idealisme, Realitas dan Mitos]

Developing football for everyone

Perombakan Inggris tak hanya sampai di situ. Senada degan apa yang dilakukan Jerman, Inggris juga menyiapkan anggaran tersendiri untuk membangun fasilitas latihan 1.000 lapangan latihan akan dibangun dengan fasilitas yang sangat lengkap dan modern.

Walaupun perekonomian Inggris belum sepenuhnya pulih, FA sudah menggandeng banyak sponsor untuk hal ini. Maklum saja, pembangunan infrastruktur tersebut direncanakan menghabiskan dana sebesar 253 juta poundsterling, atau kira-kira Rp 4,9 triliun!

Untuk soal ini memang Inggris-lah jagonya. Sponsor macam Mc Donalds, Vauxhall, Tesco, ataupun Carlesberg berhasil mereka gaet untuk membantu pendanaan pembangunan pusat latihan.

Dengan membredel semua yang usang pada sepakbola dalam negerinya, FA tentu menginginkan sebuah kemajuan prestasi tim nasionalnya. Alhasil, hari ini kita tinggal menyaksikan emplementasi silabus pembinaan usia dini tersebut.

Dan tahun ini, genap sudah 3 tahun program pengembangan itu dijalankan. Sebentar lagi Piala Dunia bergulir, jelas Inggris akan ambil bagian. Kita tunggu saja, apakah program pengembangan ini akan menuai hasil lebih cepat dari Jerman? Ataukah Inggris masih akan tetap mengambil perannya sebagai negara "besar" yang menjadi bulan-bulanan? Juni-Juli nanti jawabannya.

Sumber: Pandit Football Indonesia.
Posting Komentar