Selasa, 10 Desember 2013

Cerita Tentang Si Bambu dan Si Pakis

Hutan pohon bambu.

Ada seorang pria yg putus asa & mau meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan & Ingin bunuh diri.. !!!

Lalu Dia pergi ke hutan untuk bunuh diri..
Tapi sebelum Dia bunuh diri, Dia berkata sambil berteriak, mengadukan protesnya kepada Tuhan, sebagai kata-kata yang terakhir kalinya dengan Tuhan, sebelum Dia berniat untuk bunuh diri..


“Apakah TUHAN bisa memberikan Aku Satu alasan yang baik untuk Aku tidak menyerah dalam hidup ini, dan membuat Aku tidak bunuh diri saat ini??

Jawaban TUHAN sangat mengejutkan,
“Coba lihat ke sekitarmu...
Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?”
“Ya” jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, AKU merawat keduanya secara sangat baik. AKU  memberi keduanya cahaya, memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi, daunnya yg hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun, tapi AKU tidak menyerah.

Pada tahun kedua
Pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu... Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga
Benih bambu belum juga memunculkan sesuatu, tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun keempat
Masih juga belum ada apapun dari benih bambu.... Aku juga tidak menyerah” kata TUHAN

Di tahun kelima
Muncul sebuah tunas kecil. Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi enam bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu lima tahun..

Akar ini membuat Bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

AKU tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku“ kata TUHAN kepada pria itu.

“Tahukah Kamu, anak-Ku...
Di saat menghadapi semua kesulitan dan Perjuangan berat ini, Kamu sebenarnya tengah menumbuhkan akar-akar yg kokoh?”

“AKU tidak meninggalkan bambu itu,
AKU juga tidak akan meninggalkanmu,
Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.

“Bambu mempunyai tujuan yang berbeda dengan Pakis, Tapi keduanya membuat hutan menjadi lebih indah”


Jadi, Hidup bukan mengenai "Menunggu badai berlalu" tetapi bagaimana Kita belajar untuk tetap "Mengucap syukur meski dalam badai..." Tetap Semangat.
Posting Komentar