Senin, 09 September 2013

Lapisan Es di Kutub Bumi Meningkat, Bersyukur dan Tetap Waspada

Perkembangan lapisan es di kutub utara bumi.

Planet Bumi beserta isinya bisa dipastikan sangat senang dengan datangnya kabar ini. Badan khusus PBB yang fokus terhadap isu perubahan cuaca (IPCC) menyebutkan, lapisan es di Kutub Utara kembali meluas dibanding satu tahun lalu.


Perairan Arktik tercatat mengalami pembekuan kembali hingga 60 persen. Hampir satu juta milkubik perairan samudera Arktik kembali tertutupi lapisan es per Agustus 2013. Sebelumnya pada Agustus 2012, lapisan es di perairan Arktik mencair akibat pemanasan global. Bahkan laporan dari BBC 2007 silam pernah menyebutkan Arktik akan kehilangan seluruh lapisan esnya pada 2013. Namun prediksi itu seratus persen salah.

Dilansir Daily Mail, pembekuan kembali perairan Arktik ini lebih besar dari benua Eropa. Lebih lagi, tak ada lapisan es yang patah di sepanjang pembekuan baru. Lapisan es baru ini terbentang dari kepulauan Kanada hingga tepian pantai bagian utara Rusia.

Jalur perairan Northwest Passage yang menghubungkan Atlantik dan Pasifik juga kembali tertutup dengan lapisan es. Lebih dari 20 kapal yang berniat mengarungi lautan melintasi Nortwest Passage terpaksa harus memutar balik haluan karena perairan tertutup es.

Hal ini merupakan kabar baik bagi dunia. Beberapa ilmuwan juga memprediksi Bumi tengah menuju era penyembuhan. Pembekuan kembali es di perairan Arktik, kata Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, terjadi akibat kesadaran manusia yang memulai kampanye Global Warming sejak beberapa tahun terakhir. Aksi-aksi yang dilakukan manusia untuk kembali menyelamatkan bumi seperti Earth Hour dan semacamnya berhasil membawa perubahan baik bagi bumi.

Para ilmuwan mengklaim pemanasan global tengah berhenti sejenak. Meskipun demikian, pemanasan global tidak akan pernah bisa diprediksi. Jadi, bisa saja, suhu akan meningkat lagi. Adanya jeda dari pemanasan global ini diduga karena adanya faktor alami.

“Masuknya panas ke laut dalam diprediksi menjadi salah satu alasan menurunnya pemanasan global dalam 10-15 tahun terakhir jika dibandingkan dengan dekade sebelumnya,” tulis Daily Mail.

Selain itu, belakangan ini, aktivitas matahari dan letusan gunung berapi terbilang rendah. Letusan gunung berapi akan mengirimkan partikel ke atmosfer yang akan memantulkan panas ke bumi. Dengan minimnya letusan maka panas yang terpantul pun akan berkurang. Tidak hanya itu, variasi iklim dinilai juga berperan dalam menurunnya pemanasan global.

Meskipun demikian, lembaga prakiraan cuaca dan perubahan iklim Inggris, Met Office, menyatakan pemanasan global belum berhenti, hanya mengalami jeda. Pemanasan global mengalami sedikit penurunan. 

Pada dekade sekitar 1970-1998, tingkat pemanasan global rata-rata mencapai 0,17 derajat Celsius. Sedangkan pada dekade 1998-2012, tingkat pemanasan global hanya sekitar 0,04 derajat Celsius.

Mereka mengatakan, pengukuran terakhir suhu lautan dalam mengindikasikan panas yang diserap di tingkat bawah. Peneliti khawatir hal ini bisa menyebabkan sirkulasi lainnya di dalam lautan, yang tentunya akan sulit dipantau karena terlalu jauh dari pandangan.

Para ilmuwan juga menambahkan, periode perlambatan atau "jeda" dalam pemanasan permukaan adalah hal tidak biasa dalam perubahan suhu. Model iklim seperti ini bisa terjadi setidaknya hanya dua kali dalam satu abad.
Posting Komentar